Sabtu, 10 Agustus 2013


Penginapan murah adalah incaran para budget traveler, sebab dengan memilih penginapan murah budget traveler dapat menekan biaya akomodasi dengan tetap mendapatkan tempat menginap atau sekedar melepas lelah yang cukup layak dan nyaman.

Saat ini mulai banyak budget traveler yang menyambangi Lampung untuk mengunjungi dan menikmati destinasi wisata yang ada di Lampung yang menjadi tujuan favorit para budget traveler, diantaranya Teluk Kiluan, Pantai di Krui dan Pesisir Barat, Danau Ranau, Pantai Mutun, Pulau Pahawang, Laguna Helau, TN Way Kambas, Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau serta banyak lainnya. Tentunya tersedianya akomodasi yang murah dan nyaman yang dapat dijadikan pilihan tempat menginap di Bandar Lampung sebagai tempat transit sangat dibutukan, untuk kemudahan akomodasi, mobilitas maupun menghemat anggaran.

Berikut beberapa Penginapan Murah yang ada di Bandar Lampung, yang dapat dijadikan pilihan kawan-kawan budget traveler atau siapa saja yang kebetulan berencana mengunjungi/singgah di Bandar Lampung.

1.       Palapa Guest House

Jl. Pangeran Diponegoro No.154 Tanjung Karang

a.        Standard Private Rp. 100.000.-

b.       Standard Rp. 150.000.-

c.        Economy Rp. 175.000.-

d.       Deluxe Rp. 200.000.-

e.       Deluxe VIP Rp. 250.000.-

f.         Extra Bed Rp. 50.000.-

KM dalam, hot water bathroom, full AC, free kopi/teh, free WiFi, parkir indoor

(lokasi dekat dengan Bundaran Gajah dan Lapangan Enggal)

 

2.       Pondok Palapa

Jl. Pangeran Emir M. Noor No.36 (Belakang RSBW)

a.        Ekonomi Rp. 90.000.-

b.       Standard Rp. 125.000.-

c.        Superior Rp. 150.000.-

d.       Triple Rp. 170.000.-

e.       Deluxe Rp. 170.000.-

KM dalam (kecuali ekonomi), full AC, free sarapan pagi

(lokasi dekat dengan RSBW, kantor BPK, Kanwil Ditjen Pajak)

3.       Pelangi Residence

Jl. Mataram No.12 Enggal

a.        Single Bed Rp. 155.000.-

b.       Twin Bed Rp. 155.000.-

c.        2 in 1 Rp. 155.000.-

d.       Exsclusive Rp. 250.000.-

KM dalam, full AC, bisa sewa bulanan Rp. 3.000.000.-/bulan

(lokasi dekat dengan Lapangan Enggal)

 

4.       Penginapan Urip

Jl. Urip Sumoharjo (Belakang RSUS)

a.        Ekonomi Rp. 110.000.-

b.       AC Rp. 140.000.-

c.        AC + Garasi Rp. 170.000.-

KM dalam, fan untuk kamar ekonomi, TV untuk kamar AC

(lokasi dekat dengan RSUS dan PKOR)

 

5.       Losmen Gunung Sari

Jl. Kotaraja - Gunung Sari (seberang Gereja Kristus Raja)

a.        Standar Rp. 40.000.-

b.       Larger Room Rp. 50.000.-

KM luar, tempat tidur dan fan

(lokasi dekat dengan Stasiun Tanjung Karang dan Terminal Pasar Bawah)

 

6.       Losmen Renny

Jl. Kotaraja - Gunung Sari (seberang Gereja Kristus Raja)

a.        Standar Rp. 40.000.-

b.       Paviliun Rp. 50.000.-

KM luar, tempat tidur dan fan

(lokasi dekat dengan Stasiun Tanjung Karang dan Terminal Pasar Bawah)

 

7.       Pondok Inap Aulia

Jl. Z.A. Pagaralam (seberang Isuzu)

a.        Standar Rp. 130.000.-

b.       AC Rp. 155.000.-

KM dalam, fan (kamar standar), TV (kamar AC)

(lokasi dekat dengan UNILA, Darmajaya, UBL, Umitra, Tekonokrat, Terminal Rajabasa dan Stasiun Labuan Ratu)

 

8.       Divka Residence

Jl. Pangeran Antasari No. 114 (Lt.2 Minimarket Divka)

a.        Rose Rp. 95.000.-

b.       Kenanga Rp. 110.000.-

c.        Tulip 1 Rp. 120.000.-

d.       Tulip 2 Rp. 150.000.-

KM dalam, full AC



Sebenarnya ada beberapa penginapan murah lagi yang belum tercantum, namun belum ada informasi yang bisa disajikan disini mengenai rate dan fasilitas yang ada disana, semoga nanti bisa ditambahkan.

Silakan memilih penginapan-penginapan murah yang ada di Bandar Lampung, dengan beragam tarif yang berbanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Silakan memilih yang sesuai dengan ketersediaan dana serta kenyamanan dan kemudahan yang dibutuhkan.

Welcome in Bandar Lampung
Happy Traveling

Rabu, 26 Juni 2013



17 November 2012

Selepas mandi padi, saat @nur n @ken masih tidur, gw jalan keluar buat nyari makan. Ternyata diseberang hotel ini kalo pagi adalah pasar tempel pinggir jalan yang lumayan rame, yang juga ada minimarket Indomart. Disalah satu warung gerobag yang ada di sana gw makan nasi putih + telur + mie dgn irisan ayam + tahu + teh manis cuma bayar Rp.6000.-

Buat keliling di Surabaya kami mutusin nyewa mobil. Mobil yang kami sewa mobil Inova dengan tarif Rp.400.000.- termasuk sopir n BBM untuk nyeberang ke Suramadu n nyobain Bebek Sinjay (mauan gw), ke Tanggu Lumpur Lapindo n Kerajinan Kulit Tanggulangin (mauan @Ken) trus nganter kami Stasiun Pasar Turi. Tarif untuk nyeberangin Suramadu dengan mobil adalah Rp.30.000 sekali nyeberang ataw Rp.60.000 untuk PP. Waktu tempuh untuk nyeberangin Suramadu sekitar 15 menit. Pengen banget foto di tengah Suramadu, tapi sayang dilarang berenti di atas jembatan. Di Madura tempat yang kami datengin adalah Warung Makan Bebek Sinjay yang kesohor itu. Sampe disana sekitar jam 10.00, ternyata warung yang luasnya 2x lapangan futsal itu udah pengunjung sudah penuh n antri. Harganya Rp.15.000 per porsi untuk bebek, nasi dan lalapan+sambel mangga. Mengingat satu dan lain hal, menu Bebek Sinjay kami bungkus untuk dimakan nanti.

Suramadu

Bebek Sinjay - Bangkalan

Dari sana kami nyeberangin lagi Suramadu menuju ke Sidoarjo. Perjalanan Surabaya-Sidoarjo sekitar 1 jam. Di Sidoarjo kami ngeliat daerah yang kerendem lumpur Lapindo. Untuk naek ke atas tanggul buat ngeliat daerah berlumpur kami di minta bayar Rp.5000 per orang. Di sana kami liat lautan lumpur dan beberapa atap rumah yang menyembul di atas lumpur. Lumpur saat itu sudah mongering dan kami di tawari untuk melihat pusat semburan lumpur dengan motor yang biaya antarnya Rp.10.000 per orang, namun kami menolak karena takut.

Lampur LAPINDO - Sidoarjo

Selepas dari tanggul lumpur, kami ke Tanggulangin yang merupakan daerah sentra kerajinan kulit. Oleh driver kami dibawa ke Permata Tanggulangin sebuah store yang memajang n menjual aneka kerajinan kulit. Sempet liat2 bentar isi store, harganya lumayan murahlah untuk produk yang diklaim sebagai kulit asli. Tapi di tempat ini gw cuma belanja oleh-oleh makanan ringan macem keripik gadung n slondok doank dan minum es kelapa muda yg ada di belakang toko(pergi jauh2 ke sentra kerajinan kulit, yang dibeli malah makanan ringan.. ckckck) coz dana menipis. Cuma @ken n @nur yang ‘menitipkan’ rupiah mereka di toko ini :D

Sentra Penjualan Kerajinan Kulit PERMATA TANGGULANGIN

Dari Tanggulangin kami meluncur ke Stasiun Pasar Turi. Setelah 1 jam perjalanan, kami sampai di stasiun beberapa menit sebelum jam 15.00. Kami sudah pesan 3 tiket KA Kertajaya rute Surabaya Pasar Turi – Tanjung Priok dari Bandar Lampung sejak awal kami merencanakan perjalanan seharga Rp.43.500 per orang (belum termasuk bea pesan). Jadi begitu tiba kami tinggal menyerahkan struk pembayaran untuk ditukar dengan karcis. Sisa waktu setengah jam kami manfaatkan untuk beli minuman di Alfamart stasiun n makan Bebek Sinjay yang telah kami beli di Madura tadi di parkiran stasiun (pasang muka tembok meskipun diliatin orang yang lewat).

Setelah makan, kami antri masuk ke peron. Di pintu peron, kita harus menunjukkan karcis dan KTP untuk diperiksa apakan identitasnya sesuai. Gak lama selepas kami menyusun barang di kereta, KA berangkat meninggalkan Surabaya Pasar Turi jam 15.40. Rupanya ada kesialan lagi, di Stasiun Cerme kami harus berhenti sekitar 1 jam karena ada trouble pada lokomotif sehingga harus diganti dan menunggu penggantinya didatangkan dari Stasiun Pasar Turi. Sepanjang perjalanan KA gak ada yang istimewa selain ngobrol n tanya2 dengan sesama penumpang.

18 November 2012

Awalnya menurut itin yang kami susun, kami akan turun di Stasiun Pasar Senen dan menuju Kalideres untuk kemudian meluncur ke Merak. Tapi berdasarkan petunjuk sesama penumpang kereta, disaranin supaya kami turun di Stasiun Tanjung Priok, karena dari Terminal Tanjung Priok yang lokasinya berada di depan Stasiun, ada bus langsung menuju Merak jadinya kami memilih turun di Tanjung Priok. Sekitar jam 06.20 kami sampai di Tanjung Priok yang ternyata Cuma beberapa gelintir penumpang aja yang turun disini karena sebagian besar turun di Pasar Senen.

Dari stasiun, kami berjalan menuju terminal yang jaraknya cuma 100 meter aja. Disitu ada Bus Arimbi tujuan merak yang sudah terisi beberapa penumpang. Setelah menunggu setengah jam bus berangkat sekitar jam 07.00 dari tanjung priok. Kami sampai di Merak sekitar jam 11.00 karena bus berjalan lambat dan berputar di Serang dan Cilegon. Jam 11.45 ferry yang membawa kami ke Bakauheni meninggalkan pelabuhan Merak dan tiba di bakauheni sekitar pukul 14.45.

Dari Bakauheni kami menumpang Bus AC jurusan Rajabasa dengan tarif Rp.22.000 yang berangkat jam 15.10. Sesampainya di perempatan Way Halim pukul 17.45 kami turun dari bus untuk menuju ke rumah. Di sana @nur dan @ken yang minta dijemput, sudah dijemput. Gw nebeng mobil calonistrinya @ken. Perjalanan panjang gw berakhir jam 18.00 saat gw sampe di rumah.



14 November 2012

Pagi hari, jam 05.45 dengan sedikit terlambat kami check-out dari homestay menuju Perama Tour Counter. Sampai di sana jam 06.05, dan kami mendapati kabar buruh bahwasannya kami sudah ditunggal shuttle bus yang seharusnya kami tumpangi ke Senggigi (di Bali, ternyata keterlambatan 5 menit tidak ditoleransi. Coba kalo di Sumatera, telat setengah jam pun ditunggu apalagi yang ditunggu 6 orang. Untung kami belum bayar).

Selagi kami bingung untuk cari alternative lain, lewat sebuah mobil APV nanyain tujuan kami. Sopir ngasih harga Rp.400.000 untuk sampai ke Padang Bai. Setelah tawar menawar, kami bayar Rp.300.000 untuk 6 orang sampai di Padang Bai (tanpa AC.. haha). Sampe Padang Bai jam 07.45, kami mutusin untuk menuju Bangsal secara ngeteng (bersambung angkutan) dan masuk ke dalam Pelabuhan untuk beli tiket. Hati-hati kalo dengan calo yang banyak berkeliaran di Padang Bai. Kami saja, ketika bertanya mana pintu masuk loket, ada seorang calo yang menunjukkan arah yang sesat ke padahal setelah kami tanya ke dua orang Ibu penjual makanan di area pelabuhan mereka menunjuk ke arah yang semestinya yang berlawanan dengan arah yang ditunjuk si calo itu. Di loket kami beli tiket penyeberangan Padang Bai – Lembar seharga Rp.36.000. Menunggu kapal yang akan membawa kami ke Lembar siap, kami mencari sarapan di sekitar pelabuhan. Kami sarapan dengan Nasi Jinggo (lagi) dengan harga Rp.5000-Rp.6000 yang banyak dijual disekitar pelabuhan.

Jam 09.00 kapal ferry yang kami tumpangi memulai pelayaran menuju Lembar. Kapal yang melayani rute ini lebih kecil (sekira cuma setengahnya) dari kapal yang ada di rute Merak – Bakauheni. Di kapal ini disediakan kabin sewa bagi penumpang yang ingin kenyamanan lebih dengan harga (kata @nur) Rp.50.000/room. Awal pelayaran, kapal masih berlayar tenang. Selepas 1 jam pelayaran, goyangan kapal mulai kuat dan bikin mual (yang rentan mabuk laut mendingan tidur). Sesudah berfoto ria keliling kapal, gw yang udah mulai ngerasa mual juga milih untuk tidur ketimbang mabok laut. Gw bangun sewaktu pelayaran sudah lewat jam ke-3 dan mulai terbiasa dengan goncangan yang cukup kuat. Jam 14.00 kami sampai di Pelabuhan Bangsal. Sebelum melanjutkan perjalanan kami makan siang dulu di kedai makan yang ada di pinggir pelabuhan. Harga makanan di sini lumayan mahal. Makan dengan menu nasi+telur ceplok kering+abon+tahu kena harga Rp.15.000.


Pelabuhan Padang Bai > Selat Lombok > Pelabuhan Lembar

Sesudah makan, kami jalan menuju keluar pelabuhan. Sopir + calo mulai berdatangan nawarin angkutan. Salah satunya nawarin harga Rp.300.000 untuk 6 orang sampe Bangsal. Kami tawar Rp.150.000, dia nolak. Sewaktu kami ninggalin jalan ke luar pelabuhan, dia ngejer kami dan mau nganter dengan tarif Rp.150.000 untuk 6 orang dengan mobil carry van. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan dengan sang sopir, mungkin doi kesel gara2 tarif yang kami tawar tapi kan dia juga mau. Ke bangsal, kami melewati jalur Pusuk. Disini banyak monyet-monyet berkeliaran di pinggir jalan. Sekitar Jam 16.00 kami sampe di Bangsal.

Dari Bangsal kami harus naik public boat untuk menuju Gili Trawangan. Tarif public boat ini Rp.10.000/orang dan bisa di beli di loket Koperasi yang ada di area Pelabuhan Bangsal. Opersioanl penyeberangan Bangsal- Gili Trawangan PP dilayani jam 08.00 sampe 16.30. Setelah beli tiket, kami naik ke kapal yang segera penuh terisi penumpang. Di atas kapal, kami bertemu dengan duo traveler dari Jakarta @ntan dan @arin. Selama di Gili Trawangan kami bergabung jadi jumlah kami 8 orang. Jam 16.45, kami sampe di Gili Trawangan. Sesudah berfoto-foto ria di depan papan penanda Gili Trawangan, kami nyari penginapan.

Pelabuhan Bangsal > Gili Trawangan

Sewaktu turun dari public boat, banyak yang menawari penginapan murah di Gili Trawangan. Kami mengambil salah satu tawaran penginapan dari seorang bapak. Penginapan yang ditawarin bapak itu yaitu Desi Bungalow yang berada dalam pemukiman, jaraknya sekitar 150m dari pantai. Untuk menuju Desi Bungalow, kita tinggal ikutin jalan lurus ke dalam perkampungan dari private jetty pier (dermaga untuk kapal cepat yang disewa secara pribadi). Setelah melewati sekolahan, jalan akan mentok dan bercabang dua, tepat disanalah Desi Bungalow. Tarif yang ditawarkan adalah Rp.125.000/kamar. Tapi kami tawar Rp.250.000 untuk 3 kamar buat 8 orang, dan pemiliknya setuju, jadi kami cuma bayar sekira 32.000/orang. Sesudah naro barang n ganti baju kami balik ke pantai untuk mandi-mandi.

Desi Bungalow

Jam 19.00 selepas mandi, kami mutusin makan dulu di Art Market yang ada di seberang private jetty pier. Art Market ini kalo malem berubah jadi ‘food court’ yang ngejual berbagai makanan dengan harga yang ‘ramah’ buat backpacker. Nasi ayam goreng yang kami pesan Cuma dihargai Rp.17.000.- dan nasi ikan goreng cuma Rp.15.000. Sate Lombok pun cuma Rp.20.000/porsi.

Malam harinya, sesudah mandi kami jalan kaki lagi muter2 ngeliat situasi malam di Trawangan yang rame ama wisman. Susudah cape muter2, kami duduk di pinggir pantai buat sesi perkenalan (udah ini-itu bareng baru perkenalan.. haha). Jam 23.00 kami balik ke penginapan.

Gili Trawangan


15 November 2012

Pagi jam 07.30, sebelum ninggalin Gili Trawangan kami nyari sarapan ke arah pantai. Kami sarapan di Warung Makan Bu’ De yang berada di ruas jalan yang sama dengan penginapan, sekitar 100m dari penginapan. Menu yang disediain cukup beragam n lumayan murah. Menu sarapan gw nasi + telur dadar + mie + cah jagung + air mineral dicharge Rp.11.000.-. Sesudah sarapan, kami balik ke penginapan buat ngambil backpack.

Dari penginapan kami ke tempat pemberangkatan public boat. Di loket koperasi kami beli tiket untuk nyeberang ke Bangsal dengan harga Rp.10.000/orang. Public Boat pertama yang berangkat dari Gili Trawangan ke Bangsal adalah jam 08.00. Jam 08.30 kami ninggalin Gili Trawangan ke Bangsal. Kami hanya berenam, karena @intan dan @arin punya rencana snorkeling di Gili hari itu jadi mereka masih menginap 1 malam lagi di Gili Trawangan. Di Gili Trawangan banyak yang nawarin jasa snorkeling dengan tarif Rp.100.000/orang, mulai jam 10.00 sampai jam 15.00, di 3 gili.

Sebelum sarapan, @masakuhamil sudah telepon ke rental mobil untuk sewa mobil selama di Lombok. Via telepon kami sewa untuk satu hari dengan tarif sewa Rp.350.000 termasuk jasa driver+BBM. Kami minta supaya di jemput di Bangsal. Sesampai di dermaga public boat di bangsal, Bang Zacky driver dari rental mobil yang kami sewa ternyata udah nunggu dengan mobil apanjah-nya. Pertama kali kami minta dicariin penginapan utk backpacker di daerah Senggigi.

Dalam perjalanan ke Senggigi, kami ngelewatin Bukit Malimbu. Di sini kami singgah sebentar buat ngambil foto n ngeliat laut dari ketinggian. Dari sini keliatan 3 gili berderet di kejauhan. Dari Malimbu, Mas Zacky ngebawa kami ke Pondok Shinta yang berlokasi di daerah Senggigi. Lokasi kamar kami menghadap ke pantai, yang namun sayangnya tertutup tembok untuk melihat lepas ke arah pantai. Waktu itu Pondok Shinta lagi renovasi dan kami disediain kamar yang ngadap pantai. Harga sewa kamar mereka patok Rp.150.000/kamar dengan sarapan utk 2 orang. Harga itu kami tawar Rp.110.000/kamar tanpa sarapan dan deal.

Bukit Malimbu

Pondok Shinta - Senggigi

Selepas naro barang di kamar, Jam 10.30 kami lanjut untuk ngeksplore wilayah selatan Lombok. Persinggahan pertama kami adalah sentra kerajinan gerabah di Banyumulek. Di sini ada salah satu gerabah khas Lombok yaitu Kendi Maling. Keunikan kendi ini, tidak punya lubang di bagian atasnya. Untuk memasukkan air, adalah lewat lubang yang ada di bawah kendi. Kendi ini yang bermotif mereka tawarkan dengan harga Rp.325.000/set yang terdiri dari kendi, 4 buah gelas dan tatakan. @nur berhasil beli kendi ini setelah berhasil nawar Rp.200.000.

Sentra Kerajinan Gerabah - Banyumulek

Dari Banyumulek, jam 11.30 kami ke sentra kerajinan kain di Sukarare. Di sini ditawarin beragam kain khas Lombok dengan harga antara Rp.100.000 – Rp.2.500.000/potong. Disini beli kain batik khas yang mereka pasang harga Rp.150.000/m, tapi berhasil di tawar dengan harga Rp.75.000/m. Sebentar di Sukarare, rencananya mau ngeliat Kampung Sade. Tapi sewaktu sampe di sana, kayaknya lagi ada acara pemerintah karena banyak kendaraan berplat dinas n patugas2 berjaga di pintu masuk, jadi kami mutusin gak singgah di sana, kalo kata @masakuhamil males mo basa-basi ama pejabatnya :D

Sentra Kerajinan Kain - Sukarare

Dari situ, langsung terus ke Pantai Kuta Lombok dan sampe di sana jam 13.00. Disana gak terlalu rame. Cuma ada beberapa bule lagi bejemur n beberapa turis lokal yang lagi jalan-jalan di pantai. Fasilitasnya pun amsih minim, tapi pemandangan yang ada disana memang luar biasa. Sebelum turun mobil, Bang Zacky ngasih tau kalo disitu akan banyak anak-anak kecil yang jajain dagangan macem baju, kain ato aksesoris. Kalo emang niat beli, gak papa kalo mo liat-liat n nawar. Tapi kalo gak, bilang tegas aja ‘gak’ coz kalo gak bakalan diikutin terus ama mereka. Disitu kami simpet liat ada seorang bule diserbu ama anak-anak pedagang yang minta dagangan mereka dibeli. Pasir di Pantai Kuta Lombok ini emang unik karena bentuknya kyk merica. Bentuknya yang begitu bikin susah buat bejalan disana n pasirnya njeblos kalo diinjek.

Pantai Kuta Lombok

Kami sempet makan siang di salah satu tempat makan yang ada di Pantai Kuta yaitu di Friendly Caffe. Harga yang ditawarin lumayan murah untuk apa yang mereka sajikan. Nasi Campur yaitu nasi putih + ayam goreng + telur mata sapi + udang + cah buncis cuma dipatok Rp.20.000.-. Cukup layaklah café ini direkomendasiin buat backpacker kalo ke Pantai Kuta Lombok.

Pilih yang paling murah tapi enak

Selepas dari situ, jam 14.15 atas saran seorang kawan kami mo ngeliat Pantai Bumbang. Setelah nyasar, kami nyampe di (tempat yang segaknya kami yakini) Pantai Bumbang. Lokasinya mengikuti arah penunjuk jalan Taman Wisata Gunung Tunak. Tapi sampe disana ternayta spot-nya kurang begitu menarik karena banyak keramba apung yang merusak pemandangan.

Pantai Bumbang

Dari Bumbang, kami ke Tanjung Aan dan sampe jam 15.15. Di Tanjung Aan banyak hal yang menarik. Pasir pantainya putih n alus, hampatan batu karang yang luas, juga ada bukit kecil di naikin yang dari sana bisa ngeliat lepas ke semua penjuru. Tapi lagi-lagi sayang, objek sebagus ini minim fasilitas. Sempet buang air kecil di toilet yang agak jauh dari pantai dekat pintu keluar. Disitu tolietnya cukup memprihatinkan. Air diisi secara manual dengan timba oleh seorang ibu yang rasanya gak tega cuma bayar Rp.1000.- kalo make toilet, meskipun gak dipatok tarif oleh sang ibu itu.

Tanjung Aan

Jam 17.00 kami balik ke penginapan di daerah Senggigi dengan waktu tempuh 1 jam lebih. Dalam perjalanan kami minta Bang Zacky supaya malamnya kami diantar ke Mataram untuk beli oleh2 n nyobain kuliner khas Lombok. Untuk antaran itu, kami kena charge Rp.100.000.- Tarif itu menurut kami lebih murah kalo dibanding dengan taksi menginat kami 6 orang yang akan butuh 2 taksi.

Jam 19.15 kami menuju Mataram. Tempat pertama yang kami datengin ialah Toko Oleh-oleh Lestari di Jl. Adi Sucipto, Tinggar, Ampenan - Mataram. Disitu dijual bermacam camilan khas Lombok macam dodol dari mangga, sirsak, rumput laut atau aneka manisan, keripik, brem Lombok sampe telor asin. Harga yang ditawarin berkisar antara Rp.15.000-Rp.30.000 tergantung macam n jenisnya. Dapet oleh-oleh, lanjut ke Rumah Makan Dua Em di Jalan Transmigrasi Mataram yang nyuguhin kuliner khas Lombok, Ayam Taliwang yaitu ayam kampung muda 1 ekor dengan lumuran sambal yang rasanya pedezzz. Ayam Julat untuk yang ekstra pedas, ayam plecing untuk yang cukup pedas. Selaen itu ada juga kuliner khas lainnya yaitu plecing kangkung, telor bakar dll. Satu porsi Ayam plecing + nasi putih harganya Rp.33.000.- Lepas dari sana kami balik ke penginapan di Senggigi.


16 November 2012

Ni hari rencananya mo ke Air Terjun Sendang Gile n Air Terjun Tiu Kelep di Senaru. Sesudah dari situ ke Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya karena gw, @nur, n @ken sore jam 18.20 terbang ke Surabaya, sementara @masakuhamil, @mel, n @virustravelling satu malam lagi di Lombok untuk besoknya nerusin traveling di Bali.

Sebelum ke air terjun, kami sempetin beli sarapan buat di makan di mobil dalam perjalanan ke Senaru. Kami beli sarapan di warung ala warteg yang ada di seberang Happy Café Senggigi. Harga makanan yang di jual cukup murah. Gw pesen Nasi + telur dadar + sambel tempe + sayur + telur asin kena charge Rp. 11.000.

Kami berangkat dari senggigi sekitar jam 08.00. Perjalanan dari Senggigi ke Senaru memakan waktu sekitar 2,5 jam. Jalan yang dilalui menuju ke Senaru cukup mulus, tapi cuma punya 1 lajur untuk masing-masing arah yang berlawanan, jadinya gak bisa terlalu cepet. Kalo di kendaraan di depan berhenti ato lambat maka kita yang dibelakang akan terhambat.

Sampe di daerah Pamenang, ada konvoi motor besar yang diadain ama Honda dengan pengawalan polisi. Terpaksalah mobil yang kami naikin berjalan pelan. Walopun begitu masih ada diantara anggota konvoi itu yang maki-maki ke arah mobil nyuruh kami minggir berhenti karena saat itu kami masih berjalan, padahal saat konvoi itu lewat kecepatan mobil kami sudah sangat lambat. Sepertinya mereka lupa kalo jalan mulus di Pamenang itu dibangun dengan PAJAK rakyat bukan oleh nenek moyang atopun kelompok mereka, yang harusnya mereka sadar kalo jalan itu bukan milik mereka atau kami tapi milik KITA. Memasuki kawasan Senaru, akan ada petugas di pos retribusi milik Pemkab Lombok Utara yang akan menarik retribusi sebesar Rp.2000.

Dari pos retribusi, kami meneruskan perjalanan sampai ke Balai Pertemuan Sendang Gile Desa Senaru. Jam menunjukkan pukul 10.30. Di depan gerbang ini, ada semacam pos informasi wisata. Di sini kita akan dikenai biaya masuk ke Air Terjun yang ditarik oleh Pemerintah Desa Senaru sebesar Rp.5000.-/orang. Di sini juga ada guide yang bisa kita mintai bantuan untuk mengantar kita ke lokasi air terjun. Waktu itu, kita minta bantuan ama Mas Deni, untuk mengantar sampai di lokasi air terjun Sendang Gile maupun Tiu Kelep. Biaya jasa yang diminta sebesar Rp.80.000 tapi kami tawar Rp.60.000 disanggupi oleh Mas Deni.

Pos dan jalan menuju air terjun

Kami menuju air terjun lewat jalan di samping pos menyusuri jalan setapak bukan melalui jalur tangga yang umumnya dilewati pengunjung. Menuju air terjun, di sisi kiri terhampar pemandangan lembah dan pegunungan Gunung Rinjani, sedangkan di sisi kanan aliran air jernih yang berasal dari Gunung Rinjani. Setelah berjalan sekitar 20 menit, jalan setapak kami bertemu dengan jalur tangga yang lazim digunakan wisatawan untuk mencapai Sendang Gile. Kami harus turun kebawah melalui sekitar 20 anak tangga untuk mencapai Sendang Gile.

Sendang Gile merupakan air terjun bertingkat 2 yang terdiri dari 2 terjunan air yang paralel dengan ketinggian lebih dari 30 meter dengan debit air yang deras. Air terjun ini kurang pas untuk mandi berendam karena kolam di bawah air terjun sangat kecil. Di lokasi air terjun ini terdapat lapak yang menjual makanan ringan maupun air mineral. Tidak sampai 10 menit di Sendang Gile untuk hanya sekedar berfoto, kami melanjutkan tracking ke air terjun selanjutnya.

Sendang Gile

Kami menaiki lagi tangga yang tadi kami lalui untuk turun. Sekitar 20 anak tangga, akan bertemu dengan jalan setapak yang tadi kami lalui. Ambil arah jalan setapak ke kiri. Menelusuri jalan setapak itu, kami melewati jembatan yang bolong tengahnya karena memang merupakan jembatan inspeksi irigasi. Melewati aliran sungai sampai bertemu dengan jalan yang melalui calah batu sempit yang selepas celah batu ini sudah terliat air terjun. Setelah berjalan sekitar 25 menit dari air terjun pertama kami tiba juga di Air Terjun Tiu Kelep.

Air Terjun Tiu Kelep adalah air terjun yang terdiri dari 1 terjunan air utama dan banyak terjunan air yang lebih kecil di bawahnya, dengan ketinggian terjunan air utama lebih dari 20 meter. Debit air pada terjunan utama lebih deras diabanding terjunan air di Sendang Gile. Yang menyenangkan di bawah air terjun ini terdapat kolam air yang dapat digunakan untuk berendam dan mandi.

Dengan tidak menghiraukan suhu air yang dingin (bayangin aja air kulkas) kami semua njebur mandi dan berendam. Tapi kami diperingatkan oleh guide untuk jangan terlalu mendekat ke terjunan air karena bahaya derasnya tekanan terjunan air. Sekitar 20 menit mandi kayak orang gak pernah ketemu air (karena senengnya ampe jejeritan), guide ngasih tau kalo waktu udah abis. Waktu dibatesin karena sebelum tracking kami ngasih tau kalo gw, @nur, n @ken musti ke bandara utk penerbangan jam 18.20 jadi kami minta tolong supaya waktu kami di manage. Meski merasa kurang lama berada di Tiu Kelep kami kembali tracking ke pos. Perjalanan mengikuti jalan setapak yang kami lalui saat berangkat dan memakan waktus ekitar 45 menit.

Tiu Kelep

Sesampainya di pos kami ganti baju dan makan siang di warung makan yang ada di sebelah pos (lupa namanya). Sialnya lauk daging ayam dari menu yang dipesan waktu itu sepertinya sudah expired jadi rasanya gak karuan dan bikin ragu untuk dimakan. Selepas makan kami meluncur ke penginapan di senggigi untuk ambil backpack. Sampai di Senggigi lewat dari jam 16.00.

Di penginapan gw, @nur n @ken pisah dengan @virustraveling, @masakuhamil, n @mel untuk terus meluncur ke bandara. Perjalanan bandara lumayan bikin cemas, karena waktu tempuh dari Senggigi ke Bandara Innternasional Lombok (BIL) di Praya sekitar 1 jam. Beruntung jalanan mulus n sepi jadi mobil bisa dipacu kencang oleh bang Zacky. Sekitar jam 17.30 kami sampai di BIL. Ongkos sewa mobil ke air terjun Rp.300.000.- n ke bandara Rp.100.000 dari Senggigi.

Bandara ini lumayan rame ama penjemput, bahkan mereka menggelar lesehan dan makan di bandara. Waktu tanya ke satpam di mana terminal citilink, kami dikasih tau supaya cepat alhasil kami terpaksa jogging ke terminal citilink. Sialnya udah lari-lari penerbangan diundur, sialll!!!. Airport tax domestic di bandara ini Rp.20.000.-

Jam 19.30 pesawat take off dari BIL dan landing di Bandara Juanda Surabaya sekitar jam 19.20 (pelajaran geografi-nya diinget yaa :p ). Menurut gw Bandara Juanda ini lumayan nyaman buat backpacker coz kursi tunggu penumpang ada di dalem jd lumayan kalo dipake buat overnight. Dari Juanda kami menumpang Damri Bandara menuju terminal Bungurasih dengan tarif Rp.15.000.

Kesialan kedua adalah begitu sampe Bungurasih, saya turun dari Bus Damri tapi lupa bawa oleh-oleh yang dibeli dari Lombok. Mau gak mau kami harus pake taksi untuk ngejer tu Damri. Kami dikasih tarif Rp.80.000.- untuk ngejer Damri untuk kemudian nganterin kami ke Gubeng, karena malem itu kami rencananya nginep di Sparkling Hostel. Sampe di SPBU di daerah Rungkut kami berhasil ngejer tu Damri dan Alhamdulillah sopirnya jujur. Bungkusan oleh-oleh kembali ke tangan empunya (big thanks to Pak Sopir).

Dalam perjalanan ke daerah Gubeng, saya telpon ke Sparkling ternyata penuh. Kami minta ke sopir supaya dicarikan hotel murah di daerah Pasar Turi aja dengan biaya tambahan taksi Rp.30.000.- coz besok kami harus naek KA ke Jakarta via Stasiun Pasar Turi. Jam 21.20 kami dapet hotel yang lumayan murah yaitu Hotel Hasma Jaya di Jalan Pasar Kembang dengan tarif Rp.90.000 (fan) n Rp.100.000 (ac standard). Kami pesan 2 kamar, 1 kamar untuk @nur dan satu kamar lagi buat gw n @ken. Meskipun harganya jauh lebih mahal daripada kamar yang kamis sewa di bali ataupun Lombok ternyata kenyamanannya dibawah itu. Malam itu gw langsung tidur tanpa makan lagi coz bener-bener capek.

Minggu, 14 April 2013



Perjalanan yang sudah lama direncanain akhirnya datang juga. Waktu perjalanan yang semula direncanain selama 14 hari akhirnya diamputasi jadi 9 hari dengan mangkas trip ke Yogya dan ngurangin waktu di Surabaya. Persiapan sana-sini dilakuin, agak repot emang karena memang ini trip pertama dan dengan waktu yang lumayan lama jadi kayak orang parno, ditambah kerusuhan antar etnis di Lampung dengan segala isu2nya yang sedikit banyak bikin was-was (yang pada akhirnya kekhawatiran kami ini TIDAK TERBUKTI). Di perjalanan ini gw (@baguskuning) memulai perjalanan dari Lampung, jalan bareng @nur n @ken dengan janji bakal ketemuan n trip bareng ama warga BPI.


10 November 2012

Sabtu, 10 November jam 15.00 sore kami mulai trip, dengan ngangkot menuju Terminal Rajabasa. Sekitar 20 menitan, kami sampe di terminal n langsung ke pul bus tujuan Bakauheni. Menurut itin yg udah disusun kami rencananya naek bus ekonomi, tapi karena ngeliat itu bus ekonomi masih ngejogrog perawan tanpa satupun penumpang yang merambah, jadi kami milih naek bus AC yang ngetem di sebelahnya yang penumpangnya di dalemnya dah lumayan banyak (di awal perjalananpun, itin udah dilanggar n biaya udah overbudet.. ckckck..). Ongkos bus Rajabasa-Bakauheni untuk ekonomi Rp.18.000 n untuk yg AC Rp.22.000. Setelah nunggu 1 jam, sekitar jam 16.00 bus berangkat dari Terminal Rajabasa, dan sampe di Bakauheni sekitar jam 19.30 lewat. Perjalanan menuju Bakauheni yang normalnya cuma 2 setengah jam, jadi 3 jam lebih gara2 ada pelebaran jalan by pass n bus yang kami naekin udah tua.

Jam 20.30, kapal yang kami naikin ninggalin pelabuhan Bakauheni. Kapal sempet berenti selama 40 menitan di tengah laut menjelang pelabuhan Merak untuk antri sandar di dermaga pelabuhan Merak. Menjelang tengah malem kapal sandar di Merak. Turun kapal, ada calo nawarin travel ke Soetta dengan ongkos Rp.200.000 untuk 3 orang. Kami ber-3 jadi bingung, mo tetep pake bus ato pake travel karena Ini pertama kalinya kami ke Soetta n blm bisa ngestimasi waktu dg bener jd takut kalo sampe jam 5 belum nyampe di Soetta. Sesudah ngisi perut di Pelabuhan Merak, akhinya kami pilih ke Soetta pake bus. Kami pake bus jurusan Merak-Kalideres, rencananya nyambung dengan taksi dari Kalideres ke Soetta.


11 November 2012

Jam 01.00 bus mulai jalan dari Pelabuhan Merak. Di perjalanan, sewaktu ditagih ongkos nanya ama kondektur, ada apa gak angkutan taksi di kalideres untuk ke bandara. Dia nyaranin, klo mo ke bandara gak usah turun smpe Kalideres, tapi turun aja di Pintu Air karena selaen lebih deket juga disana banyak angkutan ojek atau taksi buat ke bandara. (sewaktu sampe Bitung, mas kondektur teriak ‘bitung, bitung..!’. Gua yang lagi setengah sadar ketiduran langsung bangunin nur n ken buat turun. Sampe di pintu bus, mas kondektur nanya heran “kok malah turun disini?”, n gw jawab “kan udah sampe Pintu Air mas, td kan mas teriak ‘pintu, pintu..’ gitu”. Mas kondektur ketawa n nyuruh kami naek sambil ngasih tau kalo Pintu Air masih jauh n kami bertiga pun balik ke tempat duduk sambil senyam-senyum malu).

Sekitar jam 02.20, kami sampe n diturunin di Pintu Air. Di tempat kami diturunin, ada 4 tukang ojek dan diseberang jalan ada satu taksi yang mangkal. Sayang daerahnya minim penerangan. Karena taksi yang mangkal gak nyamperin panggilan kami, kami nunggu beberapa menit sampe ada Taksi Ekspres yang dateng. Dari Pintu Air sampe di terminal 2 bandara Soetta jam 02.40, dan kami kena tarif argo Rp. 29.725. Penerbangan kami CKG-DPS pake maskapai Merpati Nusantara dengan keberangkatan jam 06.00 dan tiket Rp.385.000/orang. Nunggu terbang, kami nyari tempat yang nyaman buat tidur tapi semua bangku panjang sudah ditempati orang. Bahkan beberapa bule ada yang tidur beralas kain di lantai. Akhirnya, kami dapet tempat di sebuah kedai roti yang tutup yang bangku-bangkunya udah banyak di pake orang untuk nunggu, dan kami rehat sejenak disana.

Jam 05.00 kami check-in dan setelah bayar airport tax Rp. 40.000.-/orang disilakan untuk boarding lewat gate 7. Jam 05.30 ada pengumuman ‘menyebalkan’ yang ngasih tau kalo penerbangan kami kena delay selama 2 jam dari jam 06.00 jadi jam 08.00. Huihh, terpaksa nunggu lagi sambil tidur-tiduran di kursi. Jam 07.30, petugas ngasih kami sarapan berupa sebuah rotiboy dan segelas teh/kopi untuk tiap calon penumpang sebagai kompensasi delay. Gak lama setelah sarapan dibagi ke semua calon penumpang, ada pengumuman ‘lebih menyebalkan’ yang ngasih tau kalo penerbangan kami kena delay lagi selama 30 menit jadi jam 08.30, horraaayyyy!!.

Jam 08.30 calon penumpang gelisah karena gak ada tanda-tanda akan diberangkatin, juga gak ada penjelasan apapun atas kejadian saat itu. Banyak penumpang yang protes n marah ke petugas di boarding counter dan petugas-petugas nan cantik dan tampan itu juga bingung mo ngejelasain apa ke penumpang yang sudah emosi (kasian juga sie sebenernya ama mereka coz kondisi ini di luar otoritas dan kendali mereka untuk menyelesaikan dan menjelaskan).


Penumpang komplain di boarding counter Terminal 2F SHIA

Setelah bingung selama satu jam n setelah penumpang marah-marah di boarding counter, akhirnya salah seorang petinggi Merpati Nusantara datang kasih penjelasan bahwasannya pesawat yang sedianya untuk terbang CGK-DPS mengalami electric wire trouble, dan mekanik yang menangani gak bisa kasih kepastian kapan akan selesai karena cukup rumit. Setelah negosiasi dengan calon penumpang akhirnya disepakati bahwa calon penumpang akan diterbangin jam 13.00 ke denpasar dengan maskapai lain yang keebtulan masih tersedia. Gak lama kemudian rencana berubah dan inilah keputsan akhirnya, bahwa calon penumpang akan diterbangin jam 14.30 dengan pesawat Merpati Nusantara yang akan datang dari Makassar. Sebagai kompensasi, calon penumpang dikasih uang kompensasi Rp.300.000/tiket.

Jam 14.50 pesawat take off dari SHIA dan landing di Bandara Ngurah Rai jam 17.20. Sampai di Ngurah Rai, langsung ngubungin @nandito yang udah landing duluan jam 08.00 pagi karena peswatnya ga delay. @nandito ngeduganya kami gak jadi ngetrip coz kami punya jam keberangkatan yang sama dan dari bandara yang sama Cuma beda maskapai tapi sampe malem gak nyampe-nyampe. Dia ama @cathy nunggu di depan Hardrock Café Kuta n kamipun kesana pake taksi. Dari bandara ampe kuta kami bayar Rp.50.000 ke taksi. Di taksi sempet ngobrol basa-basi ama sopir. Sewaktu ditanya dari mana, kami ngaku dari Bengkulu coz masih rada khawatir kalo ngaku dari Lampung gara2 kerusuhan yang terjadi di Lampung Selatan.

Sampe di Hardrock Café, @nandito ngajak kami ke penginapan sementara @cathy jalan ama kawannya. @nandito udah pesen kamar di Sekar Bali Homestay yang ada di Jl. Poppies Gg. Sorga. Kami kena tarif kamar Rp. 60.000/orang untuk cewek n Rp.50.000/orang untuk cowok, karena kami 3 cowok + 2 cewek jadi bayar total Rp.270.000 untuk 2 kamar. Gw gak tau berapa n gimana tarif di homestay ini karena semua proses pesan diurus ama @nandito n kami tinggal bayar aja begitu sampe. KTP gw dititipin di recepcionist. Sempet deg2an jg waktu diminta KTP berhubung asal kami yg dari Lampung, tapi sewaktu KTP gw diserahin, resepsionis cuma bergumam, "oh dari Lampung". Mungkin kaminya aja yg terlalu parno, soalnya sampe kami kembali ke rumah gak ada kesulitan sama sekali yg berhubungan ama kerusuhan antar etnis di Lampung Selatan.


Sekar Bali Homestay

Sesudah mandi di penginapan, kami makan di Warung Indonesia yg ada di Poppies juga (kalo gak salah inget ada di deket Ronta Bungalows). Warung ini nyediain makanan lokal Indonesia dengan harga yang lumayan terjangkau untuk ukuran backpacker. Di sana tersedia bermacam masakan lokal Indonesia dalam display. Kita tinggal ngomong aja pilih menu mana yang mau kita makan, nanti pelayannya akan menyediakan untuk kita. Pelayan akan menyerahkan makanan dengan menu yang kita pilih beserta kartu harga dari menu tersebut. Setelah makan kita tinggal bayar di kasir dengan membawa kartu tersebut. Gambarannya, malam itu gw pesen nasi+tuna asam manis+tempe+sayur n sambal kena charge Rp.12.000. Selain menu di display, mereka juga menyediakan nasi goring, mie goring, cap cay, dan sebangsanya. Selepas makan kami muter2 jalan kaki ke beachwalk n sepanjang jalan pantai Kuta. Jam 22.00 kami kembali ke penginapan. Sebelum tidur gw n @nandito nyusun planning buat besok dengan diadvice @cathy yg kebetulan udah pulang. Hari pertama ini kami keilangan waktu gara2 penerbangan yang kacau.


12 November 2012

Hari kedua, sebelum jalan kami sarapan nasi jingo ayam yang dijual di warung sebelah Warung Indonesia dengan harga Rp.5000/bungkus. Sesudah sarapan, @nandito nganter @cathy ke Monumen Bom Bali untuk nunggu jemputan karena pagi itu @cathy terbang ke Labuan Bajo ikut rombongan BPI ke Pulau Komodo. Lepas nganter @cathy, jam 08.00 kami berempat jalan sesuai rute yang udah disusun semalam. Kami nyewa 2 motor vario dengan harga Rp.80.000/motor/2 hari. Kami nyewa dari orang yang nyewain motor di sekitar penginapan dengan jaminan KTP Ken. Rute kami hari ini, GWK – dreamland – bedugul. Kami jalan ke arah selatan melalui Jalan Uluwatu. Jam 09.00 kami sampe di gerbang GWK, dan kami harus bayar tarif masuk GWK sebesar Rp.30.000/orang. Sebenernya kerasa agak mahal juga ya, cuma ngeliat patung garuda ama wisnu aja tarifnya setinggi itu, mengingat ini kami budget traveler. Tapi karena udah terlanjur bayar, dinikmatin aja apa yang ada di dalam. Selain foto2 di komplek GWK, kami juga sempet nyaksiin tarian di Amphiteatre GWK. Sekitar 5 tarian yang sempet kami tonton dan sangat menarik. Di depan patung Dewa Wisnu terdapat beberapa teropong yang bisa digunakan untuk melihat panorama Bali, yang untuk memakainya dengan membeli koin seharga Rp.5000.-. Jam 11.00 kami bergerak ke pantai dreamland.


G W K

Di gerbang GWK dari arah dalam, ambil arah kiri. Sampe ketemu Pecatu Indah Resort masuk terus ke dalam. Sekitar 5 km dari gerbang Pecatu Indah Resort belok kiri ke jalan 2 lajur (Tanya-tanya aja disana soalnya detail jalannya lupa) sampe ketemu pos satpam yang akan narik tiket masuk ke pantai dreamland sebesar Rp.5000/motor. Disana ada beberapa rombongan bule yang lagi berjemur n gak terlalu rame. Sesudah foto2 sebentar kami lanjut jalan.


Pantai Dreamland

Rencananya mau langsung ke Bedugul tapi gw minta ke uluwatu dulu, karena tanggung udah ada di selatan jd gak terlalu jauh ke Pura Uluwatu. Jam 12.00 kami meluncur ke Uluwatu n sampe sana sekitar jam 13.00. Tiket masuk uluwatu untuk wisdom sebesar Rp.15.000/orang. Kita diwajibin pake selendang dan bagi yang pake celana di bawah lutut diwajibin pake kaen yang udah disediain, gratis.


Ulu Watu

Dari uluwatu, sekitar jam 12.30 kami balik arah ke Pantai Kuta. Karena janjian ketemuan buat gabung ama @virustraveling n @richienorichie. Jam 13.30 kami sampe di Pantai Kuta n nunggu mereka sampe semua kumpul. Begitu semua sudah kumpul, jam 14.00 kami langsung jalan ke Bedugul. Perjalanan ke Bedugul gw gak inget rute mana yang dilaluin karena gw ngikut dari belakang. Yang gw inget dari jalan ke bedugul itu cuma jalannya yang dingin n berkabut. Belum lagi ujan yang nerpa diperjalanan bikin tambah dingin. Kata @cathy, memang klo ke bedugul siap-siap aja dihadang ujan n kejadian. Setelah tanya sani-sini jalan ke bedugul, jam 17.00 kami sampe di Bedugul. Sampe di sana kami sempetin buat makan dulu. Buat yang muslim, memang makan di bali jadi salah satu perkerjaan tersendiri karena kami harus mastiin bahwa makanan yang dijual halal mengingat di bali banyak di jual menu makanan non-halal. Di bedugul kami makan di warung soto di samping Masjid Besar Al-Hidayah Bedugul yang terletak persis di depan Danau Bedugul. Selesai makan kami menuju Pura Ulun Danu Beratan dan berfoto sebentar di sana hingga pukul 18.00 dan kembali ke penginapan di Kuta.


Pura Ulun Danu Bratan - Bedugul

Di malam kedua, kami tetep bayar harga yang sama yaitu Rp.270.000 meskipun orangnya berkurang satu karena @cathy nerusin perjalanan ke Pulau Komodo. Tarif kami bayar secara pro rate, gak ngeliat cowok/cewek atau berapa orang dalam satu kamarnya. Tarif kamar dibagi jumlah orang dalam rombongan kami.


13 November 2012

Hari ini kami mau hunting oleh2 ke Pasar Sukawati dI Gianyar yang jaraknya sekitar 72 Km dari Kuta. Tanpa sarapan kami berangkat jam 08.30. Jam 10.15 kami sampe di Sukawati n langsung cari makan. Kami makan di sebuah warung makan Padang yang ada di areal pasar. Untuk menu nasi telur + tempe + air mineral 600 ml di charge 11.000. Selesai makan kami masuk ke pasar bwt nyari oleh2.

Di pasar ini, harus mahir tawar menawar. Jangan segan untuk menawar harga yang diberikan sang penjual bahkan hingga 1/3nya sekalipun. Contohnya, kaus barong bali yang awalnya ditawarkan Rp. 35.000, setelah tawar menawar alot bisa dibeli dengan harga Rp.11.000/potong. Kalo kesini usahain pagi hari selepas para pedagang bersembahyang, supaya penjual memberikan harga penglaris dan tidak terlalu susah dalam tawar menawar. Jam 12.30 kami kembali ke Kuta dan sampai di kuta sekitar 14.00.


Pasar Seni Sukawati

Selepas dari Sukawati, istirahat sebentar, kami ke Pantai Kuta untuk mandi di laut. Selagi kami mandi, @masakuhamil dateng sama @mel istrinya, gabung dengan kami. Sesudah mandi di Kuta, kami lanjut ke Tanah Lot. Jam 16.40 kami berangkat dan sampe Tanah Lot sekitar jam 18.05 dengan kondisi jalan macet di daerah Kuta sampe Legian. Tiket masuk Tanah Lot Rp.11.000/orang. Di Tanah Lot banyak toko souvebir bali tapi gak tau tentang harganya karena gak nanya2. Kami sampe di Tanah Lot sewaktu matahari udah mau ‘njebur’ ke laut. Kami cuma dapet waktus sekitar 5-10 menit aja sebelum matahari ‘tenggelem’ di laut. Kami pulang dari Tanah Lot jam 19.00 dan Sampe Kuta sekitar jam 21.00. Perjalanan pulang lebih lambat karena para traveler banyak yang ngunjungin Tanah Lot pada waktu sore, dan setelah matahari ‘tenggelem’ rame-rame serentak ninggalin Tanah Lot yang bikin antrian panjang kendaraan.


Tanah Lot

Sampe di penginapan, ternyata si pemilik motor yang kami sewa udah nunggu, karena menurut itngannya dia waktu sewa habis per jam 19.00. Ternyata, itungan sewa motor 2 hari itu gak tepat 48 jam, tp dari pagi hari pertama ampe jam 19.00 hari kedua, dan motor kembali kepelukan sang pemilik. Sekembalinya dari Tanah Lot, malam itu @nandito n @richienorichie lanjut ke bandara untuk balik ke Jakarta dengan penerbangan jam 23.00.

Malamnya kami menyempatkan diri Perama Tour di Jalan Legian untuk booking seat ke Senggigi- Lombok. Di sana kami di kasih tau kalo bahwa tarifnya Rp.150.000/orang dengan keberangkatan jam 06.00. Kami booking 6 seat tanpa pembayaran dan diminta jam 05.45 udah datang di Perama Tour Counter. Setelah dari Perama Tour, malam itu kami kembali menginap di Sekar Bali Homestay membayar Rp. 270.000 untuk 2 kamar dengan formasi 3 cowok di satu kamar dan 2 cewek di kamar yang lain.

Selasa, 07 Juni 2011




Untuk sanak/dulur/kance/warge galenye yang berdarah, berasal, memiliki keterikatan emosional atau setidaknya tertarik dengan budaya Sumatera Selatan, berikut saya sajikan tautan unduhan lagu-lagu yang berasal dari daerah-daerah di Sumatera Selatan. Semoga dapat melestarikan khazanah budaya Sumatera Selatan atau menjadi pengobat rindu akan kampung halaman bagi mereka yang di tanah rantau.

Gending Sriwijaya (versi tradisional) - Palembang

Gending Sriwijaya (versi orkestra) - Palembang

Pagar Pengantin - Palembang

Melati Karangan - Palembang

Cop Mailang - Palembang

Bumi Sriwijaya - Palembang

Sultan Mahmud Badaruddin II - Palembang

Palembang BARI - Palembang

Ogan Komering Ulu - OKU

Kaos Lampu - OKU

Kemane - Baturaja

Dek Sangke - Lahat

Dirut - Lahat

Kebile-bile - Lahat

Petang-petang - Lahat

Ribu-ribu - Lahat

Singgah Kudai - Lahat

Serasan Sekate - Musi Banyuasin

Seinggok Sepemunyian - Prabumulih

Bujang Gadis Prabumulih - Prabumulih

Ngahap - Muaraenim

Seluang Nagok Tapah - Muaraenim

Nasib Badan - Pagaralam

Ombai Akas - OKI (Komering)

Diunggak Ijan - OKI (Komering)

Dang Lupoko Kumoring - OKI (Komering)


***Silakan Diunduh. :)

Minggu, 06 Februari 2011

Seorang kawan mengutip perkataan Ahmad Fuady pengarang novel Negeri Lima Menara, menulis status di akun facebook miliknya : “ klo punya mimpi k luar negeri awl realisasinya kudu bwt paspor.aye mo bwt ah :) Paspor..paspor..*pkl mode*.ready 4 adventuring d world.”.
Yupp, kalo kita punya rencana ke luar negeri, salaj satu hal utama yang mesti kita lakuin adalah bikin paspor.

Dalam anggapan sebagian orang, bikin paspor adalah hal yang rumit dengan biaya yang mahal, sehingga banyak orang yang bikin paspor lewat biro jasa yang sudah tentu biayanya jauh lebih mahal. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, anggapan tersebut TIDAK BENAR, meskipun memang membutuhkan kesabaran n ketelitian.

Terpengaruh kata-kata di status facebook kawan saya, karena memang saya punya rencana untuk 'nyangsang' ke luar negeri, maka saya pun membuat paspor. Disini akan saya share pengalaman pribadi saya membuat paspor tersebut, supaya paling tidak bisa membantu dan memandu bagi yang berencana membuat paspor.

Setelah tertunda-tunda, dengan membolos kerja pada tanggal 6 Oktober 2010 saya akhirnya jadi juga untuk ‘beraksi’ membuat paspor. Saya membuat paspor di Kantor Imigrasi kelas I Bandar Lampung (sekarang pembuatan paspor dapat dilakukan di Kantor Imigrasi manapun, tidak bergantung pada alamat domisili pada KTP yang bersangkutan). Kantor Imigrasi Kelas I Bandar Lampung ini satu-satunya yang melayani permohonan paspor untuk seluruh wilayah Provinsi Lampung.

Kantor Imigrasi Kelas I Bandar Lampung
Jalan Hanafiah No.3 Cut Mutia Bandar Lampung


Secara garis besar prosedur di sini akan sama dengan Kantor Imigrasi lain di seluruh Indonesia. Pukul 08.20 WIB saya sampai di Kantor Imigrasi dengan membawa persyaratan yang diperlukan, yaitu :

  1. Fotokopi KTP (halaman depan dan belakang KTP di fotokopi berdampingan/atas bawah dalam satu halaman kertas folio tanpa dipotong).

  2. Fotokopi KK.

  3. Fotokopi Akta Kelahiran.

  4. Fotokopi Ijazah.

  5. Fotokopi Surat Nikah bagi yang udah nikah.

  6. Surat Rekomendasi/Sponsor dari atasan/pimpinan bagi yang berstatus PNS, Anggota TNI/Polri, dan Karyawan Swasta.

Saya sengaja datang pagi, supaya mendapat nomor antrian yang kecil dan ternyata sampai disana gak antri karena memang yang bikin paspor sedikit dan bisa langsung menuju Loket Pendaftaran WNI. Maklum di Bandar Lampung tidak sesibuk Jakarta atau kota metropolitan lainnya. Di Loket Pendaftaran WNI ini, saya dilayani oleh seorang ibu pegawai yang sangat ramah dan diberikan selembar formulir permohonan penerbitas paspor untuk saya isi. Formulir tersebut berisi data identitas pribadi yang harus diisi dengan benar dan teliti, karena meskipun isian sederhana, tapi kolom dalam formulir tersebut kecil-kecil yang bikin mata ngantuk dan kalo salah isi bisa bikin repot. Untuk kolom pilihan paspor, pilih yang 48 halaman perorangan, karena kalo yang 24 halaman itu untuk TKI.

Sesudah diisi, formulir tersebut saya kembalikan ke Loket Pendaftaran WNI tadi. Di loket, saya diminta untuk membeli map kuning di koperasi.

Map Berkas Permohonan Paspor
di Koperasi Kanim Kelas I Bandar Lampung

Harga map tersebut seharga Rp.15.000.- yang terdiri dari map kuning, sampul paspor dan selembar surat pernyataan yang mesti diisi. Surat Pernyataan tersebut berisi tentang tujuan perjalanan, maksud perjalanan, dan pernyataan bahwa perjalanan dilakukan tidak untuk bekerja. Setelah mengisi Surat Pernyataan, persyaratan yang saya bawa kemudian saya masukkan ke map kuning dan kembali saya serahkan ke Loket Pendaftaran WNI.

Sampul Paspor

Namun lagi-lagi setelah persyaratan di periksa, saya harus kembali ke koperasi untuk mengganti fotokopian KTP sesuai dengan yang diminta, karena fotokopi yang saya lampirkan itu dalam bentuk bolak-balik dipotong. Saya pun juga harus menempelkan materai Rp.6000.- di Surat Pernyataan yang saya isi itu.

Setelah semua persyaratan dilengkapi dan diperbaiki, saya kembali menuju Loket Pendaftaran WNI dan kali ini dinyatakan ‘LENGKAP’. Atas penyerahan permohonan dan persyaratannya saya, diberi Tanda Terima Permohonan dan diminta datang lagi ke Kantor Imigrasi hari Senin tanggal 11 Oktober 2010 untuk pengambilan foto dan sidik jari serta wawancara dengan membawa dokumen persyaratan yang ASLI. Tanda terima permohonan tadi jangan sampai ilang karena itu yang menjadi tanda bukti kita untuk mengurus berkas saat akan foto nanti.

Tanda Terima Permohonan

Tanggal 11 Oktober 2010, saya kembali mendatangi Kantor Imigrasi dan sudah sampai disana pukul 08.10 WIB. Saya menuju Loket Penerimaan Tanda Terima untuk menyerahkan Tanda Terima Permohonan dan di sini saya mendapat nomor antrian 2. Dari loket tersebut, berkas saya diserahkan ke Kasir dan saya diminta membayar biaya administrasi pembuatan Paspor sebagaimana diatur dalam PP Nomor 38 Tahun 2008, dengan total Rp. 270.000.- yang terdiri dari :
  • Tarif SPRI sebesar Rp. 200.000.-

  • Tarif TI sebesar Rp. 55.000.-

  • Tarif Sidik Jari sebesar Rp. 15.000.-


Setelah membayar dan mendapat Tanda Terima Pembayaran, saya menuju ruang tunggu foto dan sidik jari yang ada di belakang loket melalui pintu yang ada disebelah kanan loket. Setelah mendapat nomor urut antrian 2 milik saya dipanggil, saya masuk ke ruang foto dan sidik jari. Disana foto dan sidik jari sepuluh jari tangan diambil. Setelah selesai kita akan dipersilakan menunggu kembali di ruang tunggu menunggu dipanggil wawancara.

Kembali nomor antrian saya dipanggil, segera saya masuk ke ruang wawancara. Saya diwawancarai oleh seorang ibu pegawai yang kurang ramah dan terkesan jutek. Di sini saya diminta menunjukkan dokumen asli untuk dicocokkan dengan fotokopi persyaratan yang tempo hari saya serahkan. Selain itu ditanya pula alasan membuat paspor dan tujuan kepergian. Tidak sampai 10 menit, wawancara selesai. Saya diminta untuk menandatangani paspor dan saya diberi Tanda Terima Penyerahan SPRI yang merupakan tanda pengambilan paspor. Ketika saya tanya kapan paspor bisa saya ambil, ibu pegawai itu hanya mengarahkan untuk bertanya di loket. Di loket saya mendapat jawaban kalo paspor bisa diambil pada hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010.

Tanda Terima Penyerahan SPRI
yang diperlakukan sebagai tanda untuk pengambilan Paspor
(kayaknya ada yang aneh ya??)

Hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010, untuk kali ketiga saya kembali datang ke Kantor Imigrasi dan kali ini saya sampai disana pukul 08.40 WIB. Tanda Terima Penyerahan SPRI saya serahkan ke loket pengambilan, dan saya diminta untuk menunggu. Sekitar 5 menit kemudian, saya dipanggil dan paspor saya diserahkan. Petugas yang menyerahkan meminta saya untuk mengopi halaman awal dan halaman akhir paspor dan menyerahkan fotokopi tersebut ke loket. Setelah menyerahkan kopi halaman depan dan akhir paspor, urusan pembuatan paspor selesai.

Total biaya yang saya keluarkan untuk membuat paspor dengan mengurus sendiri tidak sampai Rp. 300.000.-, jauh lebih murah jika dibandingkan dengan melalui biro jasa. Sebelum saya pergi mengurus sendiri paspor, saya sempat menghubungi sebuah biro jasa di Kota Bandar Lampung, dan mereka menawarkan tarif Rp. 600.000.- untuk pembuatan selama 1 minggu. Berarti ada selisih Rp. 300.000.- bisa dihemat, yang besarnya lumayan loh kalo untuk dibeliin siomay atau tahu bulet.

Dengan mengurus sendiri, kita bisa menghemat uang asalkan kita mau untuk bersabar, telaten dan mengikuti prosedur yang semestinya. Lagian kalo mengurus lewat biro jasa, kita mesti tetep dateng pada waktu pengambilan foto dan sidik jari, kan sama aja masih kita juga yang dateng. Ngurus paspor sendiri sesuai prosedur itu itu gak pake ribet, gak pake mahal dan sedikit banyak sudah mendukung upaya reformasi birokrasi di negeri kita. cmiwwwww. :)

Minggu, 21 Maret 2010

Bagi yang hendak berpergian dari Bandar Lampung ke Palembang atau sebaliknya, salah satu sarana transportasi favorit yang biasa digunakan adalah kereta api. Jalur KA antara Bandar Lampung – Palembang merupakan bagian dari jaringan jalur kereta api di Sumatera Bagian Selatan yang dioperasikan oleh PT. Kereta Api (Persero) Divre III Sumatera Selatan yang berkedudukan di Palembang. Jalur kereta api Bandar Lampung – Palembang dengan 40 stasiun di sepanjang 387,872 KM terbentang antara stasiun Tanjung Karang (+96) di Bandar Lampung sampai stasiun Kertapati (+2) di Palembang. Stasiun-stasiun itu adalah :

Daftar Stasiun Antara Tanjung Karang - Kertapati


Angkutan Kereta Api antara Tanjung Karang – Kertapati dilakukan dengan kereta penumpang berikut :


UPDATE (November 2011)




UPDATE (November 2011)

Kelas, Harga Tiket dan Jadwal Perjalanan KA


Selain kedua kereta tersebut, ada satu lagi rangkaian kereta api yang melayani rute Tanjung Karang – Kertapati yaitu KA FAJAR UTAMA kelas bisnis siang, namun kereta tersebut sudah tidak dioperasikan lagi pada hari-hari biasa. Kereta ini hanya dijalankan pada hari-hari tertentu untuk mengatasi lonjakan penumpang, misalnya pada saat musim mudik lebaran.

Yang belum pernah n pengen naek KA di sini, mesti persiapan prima biar gak kaget. Klo ngeliat jadwalnya, perjalanan dengan KA Ekspres Rajabasa cuma sekitar 12 jam dan dengan KA Limex Sriwijaya cuma sekitar 9 jam, tapi ini Indonesia dan lebih-lebih lagi ini Sumatera. Pada kenyataannya lebih lama dari itu. Pengalaman gw dengan kedua kereta penumpang itu, perjalanannya NYARIS SELALU TIDAK TEPAT JADWAL. Contohnya pada 16 Januari 2010 lalu, gw menuju Palembang dengan KA Limex Sriwijaya menggunakan Kelas Eksekutif. Saat itu kereta baru masuk di Kertapati sekira pukul 08.00 dan yang paling parah adalah AC kereta mati. Niat mau naek kelas eksekutif biar nyaman gak taunya malah dapet ‘oven berjalan’. Klo keterlambatan 2-3 jam seperti itu memang sudah dianggap lazim oleh masyarakat dsini. Bahkan gw pernah ngalamin masuk di Kertapati jam 00.30 dinihari dengan KA Ekspres Rajabasa, emang sih waktu itu berangkat dari Tanjung Karang udah ngaret, sekitar jam 11.30 siang. Tapi bagaimanapun juga, gw tetep cinta ma kereta api.

Keterlambatan2 itu biasanya karena menunggu langsir dengan kereta yg dari arah berlawanan. Jalur KA di Sumatera Selatan merupakan surganya kereta barang, jadi sepanjang perjalanan kereta kita ini akan langsir dengan setidaknya 8 rangkaian kereta barang dari arah yang berlawanan. Setiap langsir gak jarang kereta kita ini yang mesti ngalah tuk nunggu kereta barang itu. Maklum KA barang adalah ‘raja’ yang diutamakan disini sebab lebih dari 85% keuntungan PT. KA Divre III Sumsel berasal dari kereta banrang. Klo lagi beruntung, waktu nunggunya gak lebih dari 5 menit tapi kalo lagi sial sekali nunggu bisa sampe 30 manit bahkan lebih. Siap kipas aja deh buat yang naek KA Ekspres Rajabasa.
Selain karena langsir, keterlambatan juga karena nyaris semua dari 38 stasiun antara yg ada diberentiin buat sekedar naik turunin penumpang. Sekali lagi biar maklum, KA kita ini melintasi daerah hutan yang sarana transportasinya kurang jadi banyak dimanfaatkan warga untuk berpergian. Selain itu jalur disini masih single track, sedangkan multiple track hanya ada di stasiun untuk keperluan langsiran.

Kereta2 kita ini biasanya padet di waktu musim mudik, akhir pekan dan di hari2 libur. Klo lagi hari padet dan pengen dapet tempat duduk, kita mesti dateng ke stasiun buat ngambil posisi antri sebelum jam 6, loketnya sendiri baru buka jam 7. Dan jangan salah, seringkali meskipun kita dateng sebelum jam 6 kita masih kebagian agak belakang karena yang laen udah ada yang dateng sehabis sholat subuh bahkan ada yang menginap di stasiun!!. Inilah perjuangan masyarakat Sumatera untuk mendapatkan selembar karcis. Klo gak percaya dateng aja waktu awal2 atau akhir2 musim liburan. Yang paling parah ya klo lagi mudik.

Untuk makanan/minuman selama di kereta jangan khawatir. Selain restorasi dan cafeteria di stasiun, untuk KA Ekspres Rajabasa, para pedagang asongan akan menemani anda hingga akhir perjalanan. Sedangkan untuk KA Limex Sriwijaya, disetiap perhentian stasiun pedagang asongan akan berkeliling menemani anda.

Selama perjalanan, sebagian besar kita akan disuguhin pemandangan berupa perkebunan dan hutan selain pemukiman tentunya. Diantaranya bahkan masih berupa hutan perawan yang belum terjamah. Perbatasan antara Lampung dan Sumatera Selatan bisa kita liat di KM.188+892

Disamping melayani jalur Tanjung Karang - Kertapati, Stasiun Tanjung Karang juga mengoperasikan KRD Seminung Lampung Ruwa Jurai (KRD Seminung LRJ) dengan jalur Tanjung Karang - Kotabumi.
Kelas, Harga Tiket dan Jadwal Perjalanan KRD Seminung LRJ


Selain Tanjung Karang – Kertapati, PT.KA Divre III Sumsel juga mengoperasikan kereta penumpang dengan rute Kertapati – Lubuk Linggau,

Daftar Stasiun Antara Kertapati - Lubuklinggau

tapi gw gak bisa kasih gambaran lebih jauh soalnya gw sendiri belum pernah ngalamin rute itu.

Sekedar informasi, mungkin semua pernah ngebaca papan nama stasiun dan biasanya tertulis nama stasiun terus ada angka dibelakangnya. Misalnya :
Stasiun Tegineneng (+63)

Kebanyakan orang biasanya ‘gak paham’ arti angka itu. Ada yang ngartiin sebagai jarak ke stasiun berikutnya, ada juga yang ngartiin jarak dari stasiun sebelumnya. Sebenarnya arti dari angka tersebut adalah posisi ketinggian stasiun tersebut dari permukaan laut. Jadi pada foto diatas, brarti stasiun Tegineneng berada pada ketinggian 63 meter di atas permukaan laut. Tempat paling mudah untuk ngebadingin angka yg tertulis dengan posisi ntu stasiun terhadap permukaan air adalah di Stasiun Kertapati (+2) karena letak stasiun ini tepat di tepi Sungai Ogan, dan akan segera terlihat dengan mudah tinggi stasiun Kertapati tidak lebih 2 meter dari paras air.

INFO BARU : Sekarang KA Ekspres Rajabasa telah menjadi KA Ekonomi AC. Harga Tiket KA Rajabasa TNK-KPT PP (Ekonomi AC) sekarang Rp.40.000.- (diupdate 16/06/2013)

INFO TERBARU :
Harga Tiket KA Rajabasa TNK-KPT PP (Ekonomi AC) sekarang Rp.30.000.- (diupdate 10/10/2013)
Peta Jalur Kereta Api Divisi Regional III Sumatera Selatan